<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Zhahra &#187; Kisah</title>
	<atom:link href="http://www.zhahra.com/category/serba-serbi/kisah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.zhahra.com</link>
	<description>Menuju Jalan Terang</description>
	<lastBuildDate>Thu, 27 May 2010 09:09:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Iblis Pun Ingin Bertobat</title>
		<link>http://www.zhahra.com/2009/07/iblis-pun-ingin-bertobat/</link>
		<comments>http://www.zhahra.com/2009/07/iblis-pun-ingin-bertobat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jul 2009 02:24:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hamba Allah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[adam]]></category>
		<category><![CDATA[iblis]]></category>
		<category><![CDATA[ingin]]></category>
		<category><![CDATA[sujud]]></category>
		<category><![CDATA[tobat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zhahra.com/kisah/iblis-pun-ingin-bertobat/</guid>
		<description><![CDATA[Dalam sebuah kitab diterangkan bahawa sesungguhnya Iblis telah datang berjumpa dengan Nabi Musa a.s. dengan berkata: &#34;Wahai Musa, engkau adalah seorang yang telah diutus oleh Allah s.w.t. dan Dia telah berkata-kata denganmu secara langsung.&#34; Kemudian Nabi Musa a.s. berkata: &#34;Memang benar apa yang kamu katakan, kamu ini siapa dan apa yang kamu mau dariku?&#34; Lalu berkata Iblis: &#34;Aku adalah Iblis! Wahai Musa aku mau kamu tolong katakan kepada Tuhanmu bahwa seorang makhluk-Nya ingin minta taubat kepadaNya.&#34; Lalu Nabi Musa a.s. berdoa kepada Allah s.w.t. dan menyampaikan apa yang diucap oleh Iblis, kemudian Allah s.w.t. pun menurunkan wahyu yang bermaksud: &#34;Wahai Musa, katakan padanya bahwa sesungguhnya Aku berkenan menerima permohonannya itu dengan syarat mestilah terlebih dahulu dia (Iblis) sujud di kubur Adam, kalau dia mahu sujud maka aku sedia mengampuni segala dosanya.&#34; Setelah Nabi Musa a.s. menerima wahyu dari Allah s.w.t. maka Nabi Musa a.s. pun terus memberitahu Iblis tentang apa yang telah Allah perintahkan. Setelah selesai Nabi Musa a.s. memberitahu segala perintah Allah s.w.t. maka dengan sombong dan congkak Iblis berkata: &#34;Wahai Musa, aku tidak sujud pada Adam ketika ia hidup di syurga, bagaimana aku hendak sujud padanya sesudah dia mati.&#34; Begitulah sifat sombong Iblis yang tetap dengan kegilannya, walaupun [...]]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.zhahra.com/2009/07/iblis-pun-ingin-bertobat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tobatnya Abu Hurairah, ra</title>
		<link>http://www.zhahra.com/2009/07/tobatnya-abu-hurairah-ra/</link>
		<comments>http://www.zhahra.com/2009/07/tobatnya-abu-hurairah-ra/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jul 2009 02:07:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hamba Allah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[abu]]></category>
		<category><![CDATA[besar]]></category>
		<category><![CDATA[dosa]]></category>
		<category><![CDATA[fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[hurairah]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[membunuh]]></category>
		<category><![CDATA[tobat]]></category>
		<category><![CDATA[zina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zhahra.com/kisah/tobatnya-abu-hurairah-ra/</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abu Hurairah, ia berkata, &#34;Pada suatu malam setelah salat Isya saya keluar bersama Rasulullah saw. Tiba-tiba di hadapanku ada seorang wanita bercadar yg sedang berdiri di tengah jalan, seraya berkata, &#34;Wahai Abu Hurairah! Sesungguhnya aku telah melakukan perbuatan dosa besar. Apakah masih ada kesempatan bagiku untuk bertobat?&#34; Lalu saya tanya wanita itu, &#34;Apakah dosamu itu?&#34; Dia menjawab, &#34;Aku telah berzina dan membunuh anakku dari hasil zina itu.&#34; Kukatakan padanya, &#34;Kau telah binasakan dirimu dan telah binasakan orang lain. Demi Allah, tidak ada kesempatan bertobat bagimu.&#34; Mendengar jawabanku, wanitu itu menjerit histeris dan jatuh pingsan. Setelah siuman dia pun lantas pergi. Aku berkata di dalam hati, &#34;Aku berfatwa, padahal Rasulullah saw. ada ditengah-tengah kami?&#34; Pada pagi harinya aku menemui Rasulullah dan berkata, &#34;Wahai Rasulullah! Tadi malam ada seorang wanita meminta fatwa kepadaku berkenaan dengan ini…. dan ini….&#34; Setelah mendengar penjelasan aku, beliau bersabda, &#34;Innaa lillahi wa inna ilahi raajiun! Demi Allah, celakalah engkau dan telah mencelakakan orang lain. Tidakkah kau ingat ayat ini : &#34;Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) [...]]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.zhahra.com/2009/07/tobatnya-abu-hurairah-ra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesejahteraan Hidup Boleh Dicari, Asal&#8230;.</title>
		<link>http://www.zhahra.com/2009/07/kesejahteraan-hidup-boleh-dicari-asal/</link>
		<comments>http://www.zhahra.com/2009/07/kesejahteraan-hidup-boleh-dicari-asal/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jul 2009 02:00:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hamba Allah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[cari]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[nikmat]]></category>
		<category><![CDATA[rezeki]]></category>
		<category><![CDATA[sejahtera]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zhahra.com/kisah/kesejahteraan-hidup-boleh-dicari-asal/</guid>
		<description><![CDATA[Seorang arif melihat setan dalam keadaan telanjang di tengah-tengah masyarakat. &#34;Hai makhluk yang tak punya malu, mengapa kamu telanjang di hadapan manusia?&#34; tegur sang arif. &#34;Mereka bukan manusia, mereka kera.&#34; Sesungguhnya sudah sejak lama Al-Ghazali menulis dalam Ihya`, Dzahaban naas wa baqiyan nasnaas (Telah pergi manusia, yang tertinggal hanya kera) &#34;Jika kamu ingin melihat manusia, ikutlah aku ke pasar,&#34; lanjut sang setan. Orang arif itu lalu pergi bersama setan ke pasar. Sesampainya di pasar, setan itu menjelma seorang laki-laki dan langsung menuju ke toko yang paling besar. Toko itu hanya menjual permata yang berkualitas tinggi dengan harga yang amat mahal. &#34;Coba lihat permata itu,&#34; kata setan kepada pemilik toko sambil menunjuk permata yang paling besar. Pemilik toko mengambil permata itu lalu menyerahkannya kepada setan. Ketika permata berpindah ke tangan setan, pemilik toko mendengar muadzin menyerukan: hayya `alash sholaah (Marilah salat) Pemilik toko segera mengambil kembali permatanya. &#34;Kamu pasti setan. Tak ada yang datang pada waktu seperti ini kecuali setan,&#34; kata pemilik toko. Kemudian ia mengusir si setan. Setelah setan pergi, ia lalu menghancurkan permata itu dengan batu. &#34;Permata ini tidak ada berkahnya,&#34; kata pemilik toko. Kemudian ia keluar untuk salat. Allah berfirman: &#34;Laki-laki yang perniagaan dan jual beli tidak dapat [...]]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.zhahra.com/2009/07/kesejahteraan-hidup-boleh-dicari-asal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tangisan Isam bin Yusuf</title>
		<link>http://www.zhahra.com/2009/07/tangisan-isam-bin-yusuf/</link>
		<comments>http://www.zhahra.com/2009/07/tangisan-isam-bin-yusuf/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jul 2009 01:52:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hamba Allah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[bin]]></category>
		<category><![CDATA[isam]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[tangisan]]></category>
		<category><![CDATA[yusuf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zhahra.com/kisah/tangisan-isam-bin-yusuf/</guid>
		<description><![CDATA[Dikisahkan bahwa ada seorang ahli ibadah bernama Isam bin Yusuf, dia sangat warak dan sangat khusyuk sembahyangnya. Namun demikian dia selalu khuatir kalau-kalau ibadahnya kurang khusyuk dan selalu bertanya kepada orang yang dianggapnya lebih baik ibadahnya, demi untuk memperbaiki dirinya yang selalu dirasanya kurang khusyuk.&#160;&#160;&#160;&#160; Pada suatu hari Isam menghadiri majlis seorang abid bernama Hatim Al-Asam dan bertanya: &#34;Wahai Aba Abdurrahman (Nama gelaran Hatim), bagaimanakah caranya tuan sembahyang?&#34; Berkata Hatim: &#34;Apabila masuk waktu sembahyang, aku berwuduk zahir dan batin.&#34; Bertanya Isam: &#34;Bagaimana wuduk batin itu?&#34;&#160;&#160;&#160;&#160; Berkata Hatim: &#34;Wuduk zahir sebagaimana biasa, yaitu membasuh semua anggota wuduk dengan air. Sementara wuduk batin ialah membasuh anggota dengan tujuh perkara:&#160;&#160;&#160;&#160; *&#160; Bertaubat.&#160;&#160;&#160;&#160; *&#160; Menyesali akan dosa yang telah dilakukan.&#160;&#160;&#160;&#160; *&#160; Tidak tergila-gila dengan dunia.&#160;&#160;&#160;&#160; *&#160; Tidak mencari atau mengharapkan pujian dari manusia&#160;&#160;&#160;&#160; *&#160; Meninggalkan sifat bermegah-megahan.&#160;&#160;&#160;&#160; *&#160; Meninggalkan sifat khianat dan menipu.&#160;&#160;&#160;&#160; *&#160; Meninggalkan sifat dengki.&#34;&#160;&#160;&#160;&#160; Seterusnya Hatim berkata: &#34;Kemudian aku pergi ke Masjid, kukemaskan semua anggotaku dan menghadap kiblat. Aku berdiri dengan penuh kewaspadaan dan aku bayangkan Allah ada di hadapanku, syurga di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, malaikat maut berada di belakangku. Dan kubayangkan pula bahawa aku seolah-olah berdiri di atas titian Shiratul Mustaqim&#8217; dan aku menganggap bahwa sembahyangku kali [...]]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.zhahra.com/2009/07/tangisan-isam-bin-yusuf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gara-gara Seekor Ular</title>
		<link>http://www.zhahra.com/2009/06/gara-gara-seekor-ular/</link>
		<comments>http://www.zhahra.com/2009/06/gara-gara-seekor-ular/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Jun 2009 03:17:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hamba Allah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[seekor]]></category>
		<category><![CDATA[ular]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zhahra.com/kisah/gara-gara-seekor-ular/</guid>
		<description><![CDATA[Disebutkan oleh Al-Qadhi Abu Ali At-Tanukhi, dia mengatakan: Dahulu kala hiduplah seorang lelaki yang terkenal zuhud dan kuat ibadatnya, dialah Labib Al-Abid. Dia datang ke pintu gerbang negeri Syam dari arah barat kota Baghdad, sebuah tempat yang menjadi laluan banyak orang.&#160;&#160; Labib kemudian berkata kepadaku: Dahulu aku adalah seorang hamba Rom, milik salah seorang tentara. Dialah yang merawat dan mengajarku cara bermain pedang sehingga aku pun mahir memainkannya sehingga merasa benar-benar perkasa.&#160;&#160; Demi menjalin persaudaraan dan untuk mengawal hartanya, walaupun aku telah dimerdekakan sepeninggalnya, aku kemudian menikahi isterinya. Aku yakin, Allah SWT. telah mengetahui bahawa apa yang kuperbuat itu tiada lain sekadar untuk menjaganya. Aku tinggal bersamanya beberapa tahun.&#160;&#160; Selama hidup berumahtangga dengannya, suatu hari kulihat seekor ular menyelinap dalam bilik kami. Aku lalu memegang ekornya untuk kubunuh, tetapi ular itu justru berbalik menyerangku dan berhasil menggigit tanganku hingga menjadi lumpuh. Setelah tanganku yang satu mengalami kelumpuhan, selang beberapa waktu kemudian tanganku yang lain menyusul lumpuh pula tanpa sebab- sebab yang jelas. Seterusnya kedua kakiku juga lumpuh, mataku menjadi buta dan terakhir aku menjadi bisu. Kemalangan ini kualami selama satu tahun.&#160;&#160; Demikianlah keadaanku yang sangat buruk, kecuali hanya telingaku yang masih mampu menangkap segala pembicaraan. Aku tergeletak tiada berdaya: Aku [...]]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.zhahra.com/2009/06/gara-gara-seekor-ular/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
